Nek milih bojo iku sing ora patiyo ngerti dunyo. Mergo sepiro anakmu sholeh, sepiro sholehahe ibune.Sohabat Abbas iku nduwe bojo ora seneng dandan, nganti sohabat Abbas isin nek metu karo bojone. Tapi beliau nduwe anak ngalime poll, rupane Abdulloh bin Abbas.Sayyidina Husain nduwe bojo anake rojo rustam (rojo persia). Walaupun asale putri rojo, sakwise dadi bojone sayyidina Husain wis ora patiyo seneng dunyo. Mulane nduwe putro Ali Zainal Abidin bin Husain, ngalim-ngalime keturunane Kanjeng Nabi.Kiai-Kiai Sarang ngalim-ngalim koyo ngono, mergo mbah-mbah wedo'e do seneng POSO.Syekh Yasin Al Fadani (ulama' asal padang yang tinggal di mekah) iku nduwe istri pinter dagang, nduwe putro loro.Sing siji dadi ahli bangunan sijine kerjo neng transportasi. Kabeh anake ora ono sing nerusake dakwahe Syekh Yasin.Neng Al Qur-an ?????? ??? ??? Istri iku ladang kanggosuami. Sepiro apike bibit tapi nek tanahe atau ladange ora apik, ora bakal ngasilno pari apik.Intine iso nduwe anak ngalim, nek istrine ORA PATIYO NGURUSI DUNYO LAN KHIDMAH POLL KARO SUAMINE.Nek kowe milih istri pinter dunyo, kowe sing kudu wani tirakat.Nek ora wani tirakat, yo lurune istri sing ahli dzikir, kowene sing mikir dunyo alias kerjo."
Senin, 19 Februari 2018
KERJA,IBADAH DAN JIHAD
Suatu ketika, seseorang berjalan melintasi tempat Rasulullah Saw., orang itu terlihat sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu berkomentar, “Ya Rasulullah, andai kata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan fî sabîlillâh, alangkah baiknya.” Lalu, Rasulullah menjawab, “Kalau dia itu bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu adalah fî sabîlillâh; kalau ia bekerja untuk membela kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, maka itu pun fî sabîlillâh; bahkan kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya agar tidak meminta-minta, maka itu adalah fî sabîlillâh,” (HR At-Tabrani).Salahlah orang yang mengira bahwa agama hanya melulu mengurusi halal-haram, surga-neraka, tahlil dan zikir di masjid tanpa konsep wirausaha dan kerja keras. Agama tak hanya mengurusi jenazah, masjid, kenduri atau kegiatan formalitas simbolik lainnya.Agama justru mengajarkan tentang etos kerja dan daya juang menghadapi hidup. Maka, salahlah orang yang hanya berdoa di masjid setiap hari, tanpa berbuat banyak untuk mencari nafkah bagi anak, istri dan keluarganya. Islam tidak mengajarkan orang untuk menjadi petapa yang tinggal di gua gelap selama berhari-hari dan mengandalkan orang untuk bersimpati kepadanya.Rasulullah mengatakan, sungguh, Allah sangat senang jika salah seorang di antara kamu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang dilakukan dengan terus menerus dan sangat bersungguh-sungguh, (HR Muslim).Tanpa konsistensi, kerja yang berkesinambungan, disiplin dan kesungguhan, amat sukar bagi seseorang untuk mendapatkan keinginan yang maudicapai. Jauh-jauh hari Rasul telah memberi dasar-dasar etos kerja bagi setiap Muslim. Rasul mengatakan, apabila engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi, dan jika engkau berada di waktu pagi maka janganlah menunggu sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Pergunakan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu, (HR Bukhari).Kebahagian hidup di dunia tak akan bisa dicapai hanya dengan berdiam diri di rumah, tanpa usaha. Tuhan dan rasul-rasul-Nyatak pernah melarang kitamenjadi kaya raya, karena bukan kekayaan yang dilarang, tapi ketamakan dan kerakusan manusianya yang dilarang. Bahkan, kemiskinanlah yang sangat dikhawatirkan oleh Sang Rasul, karena akan mendekatkan seseorang pada kekufuran.Makanya, Nabi selalu mengingatkan, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.Rasulullah membuat ilustrasi, seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulkan di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada kalau ia meminta-minta kepada seorang yang kadang-kadang diberi, kadang-kadang pula ditolak,” (HR Bukhari dan Muslim).Allah Swt. juga pernah mengingatkan Nabi, katakan kepada kaummu: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui,’” (QS A-Zumar [39]: 39).Seluruh nabi dan rasul yang diutus ke muka bumi iniadalah pekerja keras. Tak ada yang mendapatkan harta dengan lamunan atau kemalasan. Rasulullah sendiri adalah penggembala kambing, sudagar kaya, bahkan bisa disebut pengekspor-impor, karena pernah berdagang hingga Yaman dan Syria. Nabi Musa a.s., Sulaiman a.s., Dawud a.s., Ibrahim a.s. dan nabi-nabi yang lain pun dikisahkan dalam Al-Qur’an dan Hadis sebagai pekerja keras, penggembala (peternak) dan saudagar sukses.Dalam Islam, kerja adalah ibadah. Kerja merupakan jihad yang sangat dihormati Tuhan. Orangtua yang bekerja, banting tulang mencari nafkah untuk anak, istri dan keluarganya merupakan syuhada-syuhadayang dimuliakan Tuhan. Mereka layak dikatakan sebagai pahlawan, minimal pahlawan bagi anak danistrinya. Setiap tetes keringat yang mengucur dari jerih payahnya akan bernilai ibadah dan dicatat sebagai pahala, yang kelak di akhirat akan mendapatkan imbalannya.Orientasi kerja seorang Muslim tidak hanya untuk tujuan duniawi, tetapi juga sebagai bekal ukhrawi. Karena itu, agama melarang seseorang menghalalkan segala cara dalam mendapatkan sesuatu. Islam telah mengatur hubungan muamalatmanusia, baik dalam kegiatan ekonomi, perbankan, asuransi, jasa, pertanian, perdagangan dan kegiatanlainnya. Kesungguhan dan kerja keras seseorang tak hanya bertujuan untuk investasi duniawi, tetapi juga ukhrawi sekaligus.Salam Perjuangan!
Sabtu, 17 Februari 2018
KEBAHAGIAAN SEJATI DAN HAKIKAT CINTA KEPADA ALLAH
Menurut Imam Al-Ghazali, bagi orang yang sudah sangat mendalam pengetahuan makrifatnya dan sudah menyingkap rahasia kekuasaan Allah walaupun hanya sedikit, maka hatinya akan diliputi perasaan bahagia yang tak terhingga. Karena begitu bahagianya, dia akan menemukan dirinya seolah-olah terbang. Dia juga akan terheran-heran dan takjub menyaksikan keadaan dirinya. Ini termasuk hal-hal yang tak dapat dipersepsi kecuali dengan cita rasa (dzawq). Bahkan, kadang cerita-cerita sufi pun tak banyak membantu. Semuanya tak dapat dilukiskan oleh kata-kata. Ini juga membuktikan bahwa makrifat kepada Allah merupakan puncak dari segala kenikmatan. Tak ada kenikmatan lain yang dapat mengalahkannya.Abu Sulaiman Ad-Darani pernah mengatakan, “Allahmemiliki beberapa orang hamba, mereka menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah, bukan karena takut neraka atau berharap surga. Lalu, bagaimana mungkin mereka disibukkan oleh dunia dan meninggalkan Allah?”Maka, wajar saja jika ada seorang murid dari Ma’ruf Al-Karkhi bertanya kepada gurunya, “Apa yang membuatmu beribadah dan meninggalkan pergaulan dengan manusia yang lain?”Sejenak Ma’ruf Al-Karkhi terdiam. Lalu menjawab, “Aku ingat mati.”“Ingat apanya?” tanya muridnya lagi.“Aku ingat kuburan dan barzakhnya,” jawab Al-Karkhi.“Ingat kuburan? Bagian yang mana?” tanya murid itulagi.“Rasa takut pada neraka dan berharap surga,” jawab Al-Karkhi.“Bagaimana bisa begitu?”“Sesungguhnya dua malaikat ini ada dalam kekuasaan-Nya. Jika engkau mencintai-Nya, maka engkau akan melupakan itu semua. Jika engkau mengenal-Nya, maka cukuplah itu semua!”Ma’ruf Al-Karkhi mengingatkan kita bahwa perasaan takut dan berharap masuk surga adalah harapan rendah bagi orang yang beribadah. Sebab, orang yang benar-benar beribadah kepada Allah danmengharap perjumpaan dengan-Nya, pasti merindukan-Nya dengan penuh cinta, dan pasti akan melupakan segalanya. Dia hanya berharap memandang wajah-Nya. Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa Nabi Isya a.s. bersabda, “Jika engkau melihat seorang pemuda mencari Tuhannya, maka sungguh dia akan lupa segala-galanya!”Ali Ibnu Al-Muwaffaq mengatakan, “Aku bermimpi seolah-olah masuk surga. Aku melihat seorang lelaki duduk menghadap sebuah hidangan. Dua malaikat duduk di kanan-kirinya menyapinya makanan yang serba lezat. Dia sendiri tampak begitu menikmatinya. Aku juga melihat seorang lelaki berdiri di pintu surga sedang mengawasi wajah-wajah manusia. Sebagian dipersilahkan masuk dan sebagian lagi ditolak. Aku melewati dua orang lelaki itu menuju Hadirat-Nya yang suci. Kemudian, di tenda Arsy aku melihat seorang lelaki lagi, matanya terbuka dan tak berkedip, memandangi Allah SWT.Lalu, aku bertanya kepada Malaikat Ridwan, “Siapakah orang ini?” Lalu dia menjawab, “Dia adalah Makruf Al-Karkhi. Dia hamba Allah yang tidak takut neraka dan tidak rindu surga tetapi cintakepada Allah SWT. Maka, dia diizinkan memandangi-Nya hingga Hari Kiamat. Dia menambahkan dua lainnya adalah Bisyr Al-Harits dan Ahmad Bin Hanbal.”Abu Sulaiman berkata, “Siapa saja yang hari ini sibuk dengan dirinya sendiri, maka besok dia juga akan sibuk dengan dirinya sendiri. Siapa saja yang hari ini sibuk dengan Tuhannya, maka besok dia akan sibuk dengan Tuhannya.”Sofyan Ats-Tsauri suatu ketika bertanya kepada Rabi’ah Al-Adhawiyah, “Apa hakikat imanmu?” Lalu dia menjawab, “Aku tidak menyembah-Nya karena takut neraka atau berharap surga. Aku tidak seperti buruh yang jahat—jika dibayar bahagia, jika tak dibayar bersedih—Aku menyembah-Nya semata-mata karena cinta dan rindu kepada-Nya.”--Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Ridha